Oleh: Muslimin
 REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika kita hendak mewujudkan kebahagiaan dalam perjalanan hidup ini, kita pasti akan menghadapi halangan, rintangan, dan tantangan. Setiap kali kita meragukan kemampuan diri sendiri dalam memperoleh kebahagiaan, sebaiknya kita merenungkan berbagai halangan, keterbatasan, dan rintangan yang dihadapi orang lain. 
Bukankah halangan, keterbatasan, dan rintangan adalah anugerah tersendiri jika kita memandangnya demikian dan menggunakannya sebagai pendorong agar kita melakukan segalanya dengan lebih baik dan lebih ikhlas?
Sebagai contoh, Nabi Musa AS muncul pada zaman penjajahan Firaun atas bangsa Israel. Nabi Isa AS diutus untuk menyelamatkan Bani Israil dari kerusakan moral. Nabi Muhammad lahir ke dunia pada zaman jahiliyah.
As-Sarakhi menulis bukunya yang monumental, al-Mabsuth, yang mencapai belasan jilid ketika dia disekap dalam penjara bawah tanah. Sayyid Quthub menyelesaikan tafsirnya yang fenomenal, Fi Zilalil Quran, dalam penjara. Thoha Husein kehilangan daya penglihatannya, dan dengan kondisi demikian ia mulai menulis makalah dan buku-bukunya yang terkenal.
Hellen Keller tidak membiarkan kebutaan dan ketulian menghalanginya untuk menolong mereka yang kurang beruntung dibandingkan dirinya. Dan dia melakukannya sepanjang hayatnya. Isac Newton pernah ditertawai teman-temannya karena salah dalam berhitung. Thomas Alva Edison pernah dikeluarkan dari sekolah.
George Washington dan Thomas Jefferson muncul dari Revolusi Amerika. Mahatma Gandhi muncul dari perjuangan kemerdekaan bangsa India atas Inggris. Bung Karno dan Mohamad Hatta muncul dari perjuangan dan penderitaan bangsa Indonesia atas penjajahan Belanda.  Tentu masih banyak lagi orang-orang besar yang namanya menghiasi sejarah umat manusia, yang telah berjuang mengatasi setiap kesulitan dan badai kehidupan yang besar sebelum akhirnya mereka berhasil muncul menjadi pemenang.
Dan tentu deretan nama-nama orang-orang hebat ini akan terus bertambah selama kehidupan anak manusia terus berlangsung. Setiap orang yang ingin meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat pasti akan menghadapi ujian, rintangan, tantangan, dan hambatan.
Sebagaimana Allah SWT berfirman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehing¬ga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS al-Baqarah [Sapi Betina] [2]: 214).
Karena itu,penting bagi kita untuk berupaya terus-menerus berusaha mewujudkan kebahagiaan baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat luas.

Post a Comment

 
Top