“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”
(QS. al-Anbiyâ’ (Nabi-Nabi) [21]:87-88)

Ketika Nabi Yunus mengajak umatnya menuju ja­lan kebaikan. Dia tanpa pernah kenal lelah meng­ingatkan umatnya bahwa menyembah ber­ha­la adalah perbuatan sia-sia. Karena yang laik disembah hanyalah Allah semata, Pencipta langit dan bumi. Namun seruan Nabi Yunus itu terdengar sumbang dan samar di telinga umatnya. Bagi mereka menyembah berhala su­dah mentradisi sejak zaman nenek moyang mereka.
Penolakan keras itu terjadi karena mereka umat Nabi Yunus berada pada situasi comfort zone (wilayah nyaman). Comfort zone adalah sebuah kondisi dimana seseorang yang ber­ada didalamnya merasa nyaman sehingga menutup diri de­ngan situasi baru. Zona nyaman itu terbentuk karena ke­biasa­an yang sudah mendarah daging baik berupa fanatisme ke­percayaan, mazhab, maupun paham keagamaan.
Persis seperti umat Nabi Yunus mereka telah merasa nya­man me­nyembah berhala turun-temurun. Jadi, ketika Nabi Yunus datang dengan gagasan baru yang menggelisahkan ke­ber­langsungan hidup mereka, umat Nabi Yunus segera mem­bentengi diri rapat-rapat dan menutup pintu gerbang hati­nya. Terlebih lagi yang mengajak mereka meninggalkan tra­disi menyembah berhala adalah orang biasa dari golongan Sud­ra. Nabi Yunus bukanlah berasal dari golongan berdarah bi­ru. Ia tidak mempunyai kekayaan yang melimpah. Karena itu­lah me­reka umat Nabi Yunus kurang terkesan dengan dakwahnya.
Pada saat menulis tulisan ini saya merenung sejenak, ke­mu­dian menyembul pertanyaan dalam benak saya. Bagaimana ka­lau kita lahir pada zaman Nabi Yunus. Apakah kita akan me­ngikuti dakwahnya atau justru sebaliknya? Terkadang ka­lau kita berani jujur pada diri sendiri, ketika seseorang meng­ingatkan kesalahan kita, jauh di lubuk hati terdalam kita menyadari bahwa apa ia sarankan itu benar. Namun di­ka­renakan pertimbangan yang memberikan saran itu lebih "ren­dah derajatnya", kita tidak berani mengenyampingkan keegosian kita. Ada baiknya kalau kita bercermin pada sikap ketawadhuan Umar bin Khatab dalam memutuskan suatu masalah, tatkala ia menyatakan bahwa mas kawin anak-anak perempuan umat is­lam tidak boleh melebihi maskawin putri-putri Rasulullah. Saat itu muncul pendapat yang berbeda dengan Umar. Dia di­ingat­kan oleh seorang wanita, yang menunjukkan kekeliruan pan­dangan Umar berdasarkan dalil dan argumentasi yang jelas. Men­dengar ucapan wanita itu berlandaskan pada keterangan dalil yang kuat, Umar menyadari kesalahannya, lalu berkata, “Wanita itu benar, Umar yang salah.” Padahal Umar pada wak­tu itu adalah seorang khalifah.
Kita sebagai manusia biasa pasti pernah melakukan ke­sa­lah­an dan kekhilafan. Pertanyaannya adalah apakah kita mampu ber­besar hati ketika melakukan kesalahan, kemudian kita de­ngan tulus mengakui bahwa hal itu salah. Atau kita justru sa­ma seperti umat Nabi Yunus yang menolak kebenaran dan ak­hirnya mendapat teguran dari Allah berupa awan panas. Di sinilah pentingnya kita merenungkan apa yang dikatakan Imam Ali, “lihatlah apa yang disampaikan tapi jangan melihat sia­pa yang menyampaikan.”
Nabi Yunus tidak henti-hentinya mengajak kaumnya untuk me­nyembah Allah dan taat kepada-Nya. Namun mereka se­la­lu menolak ajakan Nabi Yunus. Kendati ajakannya belum mem­bu­ahkan hasil, Nabi Yunus tetap menunjukkan sikap santun ke­pada umatnya. Beliau mengingatkan umatnya, bahwa ke­ing­kar­an mereka terhadap perintah Allah akan berdampak buruk ba­gi berlangsungnya kehidupan mereka. Rupa-rupanya seruan itu tidak diperhatikan umat Nabi Yunus. Untuk kesekian ka­li­nya Nabi Yunus kembali mengingatkan umatnya bahwa jika Allah sudah menurunkan azabnya, maka tak seorang pun dapat menghindar darinya.
Namun seruan Nabi Yunus itu justru menjadi bahan ejekan dan tertawaan umatnya. Mereka malah menantang Nabi Yu­nus untuk segera mendatangkan azab yang beliau ucapkan. Men­dengar cemoohan kaumnya, Nabi Yunus begitu terluka se­cara emosional. Kekecewaan itu begitu dalam sehingga dia ingin mengalihkan rasa sakitnya itu. Dia memutuskan untuk per­gi meninggalkan umatnya. Sebagai da’i, dia merasa sudah sangat maksimal mengajak umatnya untuk kembali ke jalan Allah. Dia sudah tidak sanggup lagi merasakan sakit hati ka­re­na kekecewaan.
Keputusan Nabi Yunus pergi meninggalkan umatnya lang­sung men­dapat teguran dari Allah. Hal ini disadari Na­bi Yu­nus tatkala ia me­numpang perahu bersama sebuah rom­bong­an. Tak berapa lama kemudian kapal itu terombang-am­bing di­han­tam deburan om­bak yang dahsyat. Menghadapi han­taman ba­dai dahsyat tan­pa henti, semua rombongan yang ada dalam perahu tersebut dijangkiti rasa kekhawatiran yang akut.
Karena badai tak juga kunjung reda, akhirnya mereka mem­­buat konsensus untuk mengurangi jumlah penumpang de­ngan cara melakukan pengundian. Dengan ketentuan siapa pun yang namanya keluar, secara suka rela menceburkan diri­nya ke laut. Pada undian pertama keluarlah nama Nabi Yu­nus. Namun karena beliau tamu kehormatan, maka mereka eng­gan melaksanakan hasil undian itu. Diadakanlah undian yang kedua, tidak disangka nama Nabi Yunus kembali keluar.
Setelah undian dilakukan berturut-turut serta secara kebe­tul­an nama Nabi Yunus keluar dua kali dalam undian tersebut, Na­bi Yunus merasa ini merupakan ketentuan Allah. Mungkin ini merupakan peringatan dari Allah atas ketidaksabarannya da­lam berdakwah. Oleh Karena itulah, Beliau membulatkan te­kad menjalankan hasil undian itu. Dan melarang anggota rom­bongan lainnya melanjutkan pengundian. Setelah meng­ucap­kan rasa terimakasih dan mohon pamit. Nabi Yunus men­ce­­burkan dirinya ke laut. Beliau pasrahkan akhir hidupnya ke­pa­da Allah. Beliau percaya apa pun yang menjadi ketentuan Allah, itulah yang terbaik.
Pada saat itu juga Allah mengirimkan seekor ikan besar yang disebut ikan Nun. Kemudian ikan besar itu menelan Na­bi Yunus. Di dalam perut ikan itulah Nabi Yunus memohon kepada Allah dengan doanya yang sangat populer: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, dan Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang yang telah berbuat dzalim.” Sebuah ketulusan, kejujuran serta rasa penyesalan yang menggugah diperlihatkan Nabi Yunus. Dia menyadari bahwa ia telah berbuat khilaf meninggalkan kaumnya tanpa izin Allah.
Ungkapan rasa penyesalan yang tulus Nabi Yunus atas kekhilafan yang telah dia perbuat disambut baik oleh Allah dengan memaafkan kekhilafannya. Hal itu ditandai dengan diselamatkannya Nabi Yunus. Dalam riwayat al-Baihaqi dari hadis Sa’ad bin Abi Waqas bahwa Rasulullah telah bersabda: “Doa Dzun Nun (Nabi Yunus), pada saat dia berada dalam perut ikan adalah dan tidaklah seorang pun yang berdoa dengan tersebut, melainkan (Allah) akan mengabulkannya.” (HR Tirmidzi).
Setelah Nabi Yunus melewati lika-liku terjalnya jalan dakwah dan menyadari kesalahannya, Allah memerintahkan beliau kem­bali kepangkuan kaumnya karena mereka membutuhkan ke­pe­mimpinan beliau. Di saat itu umat Nabi Yunus sudah ber­iman semuanya. Dengan izin Allah yang Maha pemaaf Nabi Yu­nus kembali mengajak kerabat dan kaumnya meningkatkan kua­li­tas keimanan dan menyempurnakan ibadah kepada Allah.
Teguran Membawa Bahagia
•    Berbesar hatilah untuk menerima kebenaran yang datangnya dari manapun. Meskipun sumbernya dari orang yang lebih ‘rendah kedudukannya’ dari kita.
•    Di dalam melakukan sebuah perjuangan kita tidak boleh putus asa dan kecewa bila menghadapi tantangan dan penolakan. Karena semua peristiwa itu adalah cara Allah mengajarkan arti kesabaran dan kebahagiaan.

Post a Comment

 
Top